myJourney

myworld August 26, 2008

 

Session 2 

I’m already married…..with my self

mungkin itu yang bisa kita bilang sekarang pada saat semua orang ‘memaksakan’ kehendaknya untuk kita menikah dengan seseorang yang mungkin kita paksakan? nggak kita cintai? nggak kita yakini? nggak kita percayai? Bahkan mungkin nggak kita sayangi?

Semuanya asal maju terus tanpa mundur untuk melegakan perasaan sekitar dengan status baru kita..ato untuk mengejar dan mendapatkan sesuatu yang namanya target? materi? atau apapun itu yang terkadang membuatku takut dan miris.

jika kita berbicara umur dengan hitungan ‘twenty something’…yagh, pasti untuk cewek, ini menjadi angka yang menakutkan. karena pada saat-saat ini pertanyaan demi pertanyaan untuk status baru kita, label baru kita, akan semakin sering kita dengar dari sekitar yang akhirnya akan mengakibatkan adanya sebuah tekanan yang kadang membuat kita ingin menjerit. 

apakah iya, kita tidak mau menikah? nggak juga menurut saya pribadi. Karena menikah adalah hal yang sangat saya inginkan. karena, kita bisa bersama dengan seseorang yang sangat kita cintai, sayangin, bisa menjadi imam kita, partner hidup kita, menjadi ayah yang terbaik bagi anak-anak kita, bisa menjauhkan kita dari yang namanya perbuatan zina, mengikuti kodrat kita sebagai wanita untuk melahirkan, menjadi ibu, untuk menjadi manusia yang diberi jalan dan pahala yang lebih banyak untuk apapun yang kita kerjakan selama kita menjadi istri yang sholehah, ibu yang terbaik buat anak-anak kita dan banyak hal lainnya  yang tentunya pasti banyak konsukuensi yang kita terima dengan berbagai macam resiko yang ada. Tapi bukan hanya dalam lembaga pernikahan saja kan kita bisa rasakan ini semua? Karena dalam setiap kehidupan kita pun, jika kita sudah memutuskan sesuatu maka kita harus siap dengan segala konsekuensi, resiko dan menerima semua paket yang ada.

Pada suatu malam, ada yang berkata kepada saya, bahwa dalam menikah kita harus siap memasuki journey yang indah…dimana segala suka, duka, sakit, perih dan apapun yang ada didalamnya, adalah hal yang akan menjadi saat ”hand in hand”, dengan kekuatan yang ada untuk sesuatu yang lebih indah setiap saatnya. Kenapa kita harus takut dan tidak yakin kepada sesuatu yang sudah menjadi kodrat kita? Ada dalam tuntunan agama kita untuk meneruskan keturunan yang sholeh dan sholehah, dan membarokahi hidup kita didunia?

Kita langsung dapat memutuskan hal ini dan akan lebih indah jika sudah waktunya. Seperti yang ditulis dalam commentnya ifan di post’ “twenty something”. Dimana ini semua bisa kita rasakan setelah kita mendapatkan jodoh kita yang dikirimkan Allah SWT. Dalam perjalananku, alhamdulillah aku bersama dengan seseorang yang benar-benar mencintai dan menyayangiku. Bukan karena paksaan, bukan karena tresno jalaran soko kulino saja, tapi karena kami tau bahwa semua rasa itu ada diantara kami, dengan saling menjaga komitmen yang ada. Tapi mungkin karena Allah berkehendak yang lain, dan belum waktunya aku bisa menuju pada langkah selanjutnya. Menikah. Dimana sebelumnya segala persiapan sudah dilakukan, walaupun akhirnya semua itu tidak terlaksana, namun insya Allah kuyakini sekali lagi bahwa ini adalah jalan dari Allah yang telah menyiapkan sesuatu yang lebih indah dan terbaik untukku nantinya. Amien.

Temen seperjuanganku pada suatu saat mengalami masa yang sama. Dimana kami akhirnya menyadari, bahwa memang inillah jalan yang telah dipilihkan untuk kita. Dan kita sebagai manusia haruslah mensyukuri apapun dan mengimani yang telah direncanakan untuk kita.  Kalaupun pada saat yang lain, aku tegaskan kembali pada saat dia akan memutuskan untuk menikah dengan seseorang (setelah peristiwa itu) yang samasekali tidak dia cintai dan hanya menikah karena deadline, maka yang keluar saat itu dariku…

”…yakinlah dan pertimbangkanlah apa yang akan kamu putuskan. Apakah dia benar-benar orang yang kamu sayangi? Apakah kamu bisa menyayanginya sekaligus membencinya?apakah kamu siap dengan segala konsekuensi yang ada?kita hidup cuman sekali, kita berhak untuk mendapatkan seseorang yang kita cintai, sayangi dan mencintai, menyayangi kita. Jika bersama dengan seseorang yang sangat kita sayangi, kita terkadang merasa berat dan letih untuk menerima kenyataan yang ada, bagaimana dengan orang yang samasekali kita tidak punya rasa?”

gw kasian ma dia ya’….dia sayang banget ma gw”

”Hue? Yakin? Hanya dengan alasan itu kamu mau menikah? Bukannya kamu malah akan menyiksa dia seumur hidupnya? Please….dipertimbangkan lagi. Kita sama-sama dewasa, dan bisa berpikir. apakah yang terbaik buat hidup kita…”

Yagh,…mungkin gak cuman aku yang berpikiran seperti ini. Sebagian orang juga akan berpikir yang sama. Dimana kita ingin hidup bersama sampai akhir hayat kita dengan seseorang yang kita sayangi, yang kita yakinin dan bisa menjadi partner dalam hidup kita dalam menghadapi apapun yang ada didepan kita nantinya. Apapun itu…

”janganlah kamu menjadi orang yang akan menyesali hidupmu selamanya, hanya karena bersama dengan orang yang tidak benar-benar kamu sayangi, dan hanya kamu nikahi karena kau kasihan dan bersimpati kepadanya dengan semua perngorbanan yang dia lakukan karena perasaannya padamu…”  ini adalah pengakuan seseorang pada saat pertanyaanku muncul, ”kenapa kamu tidak meneruskan dan mempertahankan hubungan dengan pasanganmu yang sangat menyayangimu, berkorban untukmu dan telah menyayangi keluargamu?”

Dan akhirnya….belum menikah, menikah dan tidak menikah adalah pilihan dalam hidup kita, lengkap dengan semua paket yang ada. Kalo dalam sex and the city…. married is about a label.. J

10092008

session 1

Ok…sebuah kenyataan tentang wanita (termasuk saya mungkin?) tentang yang namanya cinta? Ini semua jadi ada dipikiranku lagi pada saat aku nonton berturut-turut sex and the city dari session 1 sampai tamat J 

Yagh, nontonnya sih gak langsung dalam satu hari, tapi dalam seminggu kurang setiap pulang kantor atau begitu ada waktu luang, maka aku bertemu lagi dengan sosok carrie, miranda, samantha dan charlote itu.

 

Pembahasan dalam film itu memang tidak akan jauh dari yang namanya, cinta, kehidupan, pertemanan, cinta dan cinta lagi J tapi dalam setiap session tersebut banyak hal yang sebenarnya dapat kita ambil dari berbagai sisi. Mungkin tidak sama persis dengan pembahasan yang terdapat dalam sebuah session. Tapi aku cuma merasa heran, kenapa wanita terkadang memang terlalu memaksakan dirinya untuk bersama dengan seseorang yang sebenarnya tidak mencintai’nya? Kenapa wanita selalu menggunakan dalih pengorbanan, kesetiaan, rasa cinta yang terlalu dalam kepada pria, jika sebenarnya perasaan tersebut dapat kita rasakan dalam hati kita masing-masing walaupun mungkin tidak pernah terucap sedikitpun ada atau tidaknya cinta itu?

 

Kadang sebagai wanita aku merasa mau marah, sakit dan merasa tidak terima dengan berbagai macam hal yang terjadi dalam masalah hubungan cinta dan cinta ini, jika akhirnya berujung pada pertengkaran, perpecahan, saling ‘membunuh’ dan berbagai hal lainnya yang ada. Namun setelah ditelaah lagi, bukannya wanita yang ‘menawarkan’ posisinya tersebut dan mau diperlakukan demikian? 

 

Dalih pengorbanan, kesetiaan yang ada dalam diri wanita kepada pria yang memang benar-benar tidak dapat mencintainya, apakah ini bisa kita pertahankan? untuk kurun waktu berapa lama sampai cinta itu berbalik kepadanya? Berbagai pengharapan pasti akan muncul dalam diri kita, berbagai usaha, sampai mungkin maunya kita mengorbankan apa yang paling berharga dalam diri kita, kehormatan, harga diri dan berbagai hal lain yang kita miliki akan kita korbankan untuk membuktikan seberapa besar cinta kita kepadanya, apakah ini yang namanya perjuangan cinta? Tapi apakah kita tau ini semua akan ada dan berbalik kepada kita?

 

Dan apakah kita pernah berpikir, bahwa selama kita berada didekat pria yang ‘mungkin’ benar-benar tidak mencintai kita tersebut, orang yang selama ini kita junjung karena besarnya cinta yang kita punyai, malah menjadi pria yang sangat tersiksa? Karena harus selalu ‘berpura-pura’, berusaha menumbuhkan rasa untuk membalas cinta kita, menipu dirinya sendiri dalam melakukan banyak hal selama berada dalam ‘lingkaran’ kita, berusaha menyayangi kita dan hanya berusaha membalas apapun yang kita telah berikan tanpa merasa melakukannya karena cinta dan akhirnya kita membunuh hatinya?

 

Inillah kenyataan yang kadang tidak pernah kita mau terima. Karena kita wanita (tidak semuanya) selalu merasa dapat memberikan yang terbaik. Tapi untuk siapa? Untuk orang yang kita sayangi dan cintai tersebut? Atau untuk diri kita sendiri?

 

Ini memang tidak bisa ditepuk rata hanya terjadi pada wanita. Karena sebenarnya hal ini pun dapat terjadi pada pria. Dimana perasaan yang dimiliki dan ada dalam setiap manusia, adalah sesuatu yang nyata, tidak bisa menipu ditipu, walau sekeras apapun kita berusaha.

 

26082008

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.