Malam itu sepulang kantor, akhirnya aku bisa melepaskan keletihan jiwa dan ragaku dengan 2 jenis kegiatan yang sangat kunikmati. Pertama body massage dan yang kedua ketemu anak-anak yang malem itu secara dadakan langsung ngajakin buat ketemuan, setelah 2 minggu lamanya kami disibukkan dengan kegiatan kami masing-masing.
Begitu ketemu dengan mereka, berbagai cerita langsung mengalir tanpa henti. Sang mantan ketua osis tetap dengan senyuman khasnya, menjadi pendengar yang baik disaat aku dan sang EO masih dengan celaan dan bahasan yang sama. Gak cuman kami bertiga yang ada di V café malem itu. Karena yang pasti ada ibu juragan minyak yang malem itu cuman lihat aku dan meluk aku karena udah lamanya kami gak pernah ketemu, dan pastinya ada new comer disini yang dibawa oleh sang mantan ketua osis yang ternyata kami pun bisa nyambung. Jadi keinget apa yang kamu bilang tentang orang yang mempunyai kecenderungan menjadi connector people. Dimana orang yang bisa menyambungkan antara orang yang satu dengan yang lainnya entah dari mana arah dan asalnya.
Malam itu terasa seperti malam sebelumnya. Dengan pembahasan yang malam ini membahas masalah perdagangan, diplomat (cita-citaku jaman dulu) disini aku pastilah membuka dengan diawali senengnya aku sama yang namanya Dinno P djalal ditambah setelah baca bukunya “Harus Bisa” dan Marty Natalegawa yang kharismatik, masalah pernikahan, pertengkaran, sosok politikus, cendikiawan, pengamat ekonomi (dimana sang new comer sangat suka dengan yang namanya Faisal Basri) dan berbagai obrolan lainnya yang menjadi intermezzo diantara kami. Cheese cake, sahabat, bintang, cowok, cewek yang pastinya menjadi bumbu yang sangat menyenangkan diselingi dengan perdebatan yang memang gak pernah abis-abisnya J
Alhamdulillah ya Allah, sebuah suasana dan sebuah hubungan yang memang aku syukuri dalam kehidupanku. Suasana yang sama seperti pada saat aku berkumpul dengan sahabat-sahabat ku nun jauh disana (reminds me, for all of u dear.ik hou van je). Disaat kami ada dirumah, den haag, rotterdam, schiedam. Alhamudlillah ya Allah. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Kami disini dengan latar belakang yang pastinya datang dari berbagai macam jenisnya, pendapat dan pemikiran kami yang pastinya akan tidak sama, masalah yang pastinya ada disetiap masing-masing kami, pengalaman hidup yang telah kami lalui, cobaan dan cerita yang kesemuanya bisa melebur jadi satu tanpa ada yang merasa harus menunjukkan dirinya masing-masing, menipu dirinya masing-masing, menonjolkan ’kepemilikan’ masing-masing, dan berbagai hal yang sering aku temui dalam lingkungan sosial yang ada disekitar kita.
Alhamdulillah…kalo aku inget apa yang selalu kamu bilang dan beberapa orang yang ada disekitarku pada saat aku sedang mengalami sebuah masalah”…kalo memang dia ataupun mereka akhirnya bermakmuman untuk berbuat, bertindak dan berlaku seperti itu, berarti dia ataupun mereka sudah saling masuk kedalam golongan dan kelompoknya. Jadi bukan salah kamu dan gak usah terlalu sakit dengan melihat dan merasakan apa yang telah mereka lakukan ke kamu. Itu adalah pilihan hidup mereka. Karena siapapun kamu dan bagaimanapun kamu, orang akan bisa langsung merasakan, menilai dan melihat, tanpa kamu minta dan kamu ’umumkan’. Dan satu lagi….kita gak akan mungkin menyenangkan dan menuruti apa yang orang lain inginkan”.
Seperti yang udah pernah aku denger pada saat pandji berkomentar, tentang bagaimana seorang dewi lestari dan marcell yang bisa dengan sangat apiknya mengatasi berita dan menyikapi semua pertanyaan yang ditujukan kepada mereka berdua, aku jadi tersadar…bahwa kita hidup didunia nyata. dimana akan selalu ada 2 sisi yang ada didalamnya untuk menjaga keseimbangan, dan akan ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh setiap individu yang ada, bagaimana dia akan menyikapi, memilih dan akhirnya menentukkan setiap langkah dan pilihan yang akan dilakukannya. Kita hanyalah bisa menjadi pribadi yang utuh jika kita dapat mengetahui ini semua. …Apakah kita sudah menjadi diri kita apa adanya? Apakah kita sudah merasa nyaman dan bersyukur dengan apa yang kita miliki? Dan apakah kita saat ini sudah berada pada dunia nyata?
Recent Comments